RYANTA DAMARA PUTRA
NPM : 56416732
Di masa era globalisasi dan pengaruh budaya luar , identitas diri pemuda bangsa sangatlah berpengaruh ,berikut ini adalah macam macam lunturnya identitas diri di kalangan pemuda bangsa di era globalisasi dan budaya luar :
1. KURANG PERDULINYA TERHADAP LINGKUNGAN SEKITAR
Rata rata pemuda bansga indonesia yang saya perhatikan , banyak yang tidak mempunyai rasa siimpatik terhadap masyarakat sekitar , misalnya di sebuah jalan ada seseorang yang mengalami kecelakaan , mereka hanya melihat tanpa membantu sedikitpun untuk membantu oraang tersebut , mengapaa begitu ? karena mereka sudah terpengaruh globalisasi dan budaya luar , sikap acuh tah acuh atau sikap yang berindividual tinggi yang mereka rasakan secara tidak sadar sudah tergambar dari adanya efek globalisasi dan budaya luar.
2. MELUPAKAN ADANYA PANCASILA SEBAGAI LANDASAN NEGARA
Banyak pemuda bangsa ketika ditanya oleh seseorang banyak yang lupa urutan pancasila atau bahkan ada yang tidak tau isi dari Pancasila , mereka banyak terpengaruh oleh pergaulan budaya luar , sampai lupa landasan negara mereka sendiri padahal itu adalah salah satu identitas mereka sebagai warga negara Indonesia.
3. CARA BERPENAMPILAN
Sudah tidak heran dengan penampilan pemuda jaman sekarang , dengan adanya koneksi internet , mereka bisa saja meniru “Style” atau gaya yang sedang tren di budaya luar , mereka lupa betapa melimpahnya budaya kita sampai sampai negara lain ingin memilikinya , ketika satu persatu budaya kita diakui budaya lain , barulah mereka marah padahal itupun salah mereka sendiri.
Teknologi informasi yang lahir dan dibesarkan di dunia barat, telah lebih banyak diterapkan oleh kelompok kapitalis yang menguasai pasar industri. Dunia industri dengan segala macam pengetahuan yang terlahir telah memaksa teknologi informasi berada dipihaknya hingga peradaban yang terlahir adalah tangan-tangan pengedali pasar industri. “Globalisasi telah menjadi kekuatan yang membutuhkan respons tepat karena ia memaksa suatu strategi bertahan hidup (survival strategy) dan strategi pengumpulan kekayaan (accumulative strategy) bagi berbagai kelompok dan masyarakat” (Featherstone,1991). Kenyaan ini memberi dampak bahwa proses yang terjadi telah membawa pasar dunia industri dengan segala macam bentuk dan format operasionalisasinya menjadi suatu kekuatan dominan dalam pembentukan nilai dan tatanan sosial yang bertumpuh pada prinsip-prisip perekonomian kian padat dan canggih dalam operasionalisasinya. Dari dampak yang ditimbulkan, telah mempengaruhi realitas jangkauan pasar industri telah mewabah keseluruh dunia melalui jaringan cyber multimedia digital termasuk Indonesia yang tak luput dari efeknya.
Gencarnya arus globalisasi dengan diikuti hadirnya kecanggihan teknologi di dalamn penerapannya yang menerpa Indonesia, membuat lahirnya peradaban menuju kearah dunia barat. Lahirnya modernisasi di dalam masyarakat kita telah sedikit banyak merubah cara pandang dan pola hidup masyarakat, sehingga peradaban yang tercipta merupakan duplikasi budaya masyarakat barat yang cenderung berjiwa konsumtif dan hedonis. Berbagai macam fenomena kehidupan yang terjadi di lingkungan masyarakat dewasa ini, telah mengilustrasikan suatu keadaan yang mencerminkan layaknya kehidupan masyarakat dunia barat. Pola ini memang sengaja dilakukan oleh para penguasa media yang melahirkan dan mempopulerkan pola hidup semacam itu lewat pengaruh produknya yang notabene sebagai cerminan kebudayaan lebih modern serta digembar-gemborkan melalui berbagai macam jejaring medianya hingga masyarakat bertekuk lutut, lalu meniru secara mentah-mentah tanpa adanya koreksi diri dari produk lansiran kaum kapitalis itu. Industri media yang menguasai jaringan cyber digital space itu, memang telah sengaja mengobrak-abrik tatanan hidup bangsa Indonesia yang terkenal satun itu, dan telah menjadi bagian dari jatidiri bangsa Indonesia selama ini, kini diganti dengan kebudayaan seronok, berperilaku rusak, dangkal pemikiran, berjiwa pragmatis, instanis, konsumtif serta hedonis.
Realitas kehidupan yang terjadi dari masuknya arus globalisasi dengan intensitas tinggi itu, sedikit banyak berimplikasi pada sendi-sendi kehidupan bangsa yang dahulunya dikenal luhur budi pekertinya itu, kini telah teracuni oleh faham-faham yang datangnya dari luar. Dalam situasi bersamaan masuknya jaringan informasi digital international yang mengusung pernik-pernik kehidupan berdasar pada masuknya bermacam-macam ideologi diantaranya kapitalisme, libaralisme, materialisme, pragmatisisme, hedonisme, telah menjilma menjadi sosok-sosok pencari sensasi kehidupan melalui jaringan cyber multimedia space berteknologi digital. Mudahnya pengaksesan situs-situs jaringan internet oleh insan negeri ini dari anak-anak, remaja, eksekutif muda, bahkan orang tua sekalipun pada situs-situs website jaringan international dengan kompleksitas content di dalamnya tanpa bisa lagi membedakan mana baik dan buruk termasuk mengantisipasi arus pergerakkannya.
Pesatnya perkembangan teknologi informasi dalam arus globalisasi yang tinggi intensitasnya dan tidak di imbanginya dengan penanaman ideologi bangsa yang kuat dan kualitas pendidikan yang memadahi dari penyelenggara negara pada rakyatnya, menyebabkan bangsa ini hanya melahirkan insan – insan yang gila akan pragmatisisme dan konsumerisme, hingga bangsa ini telah menjadi bangsa berjiwa konsumtif dan hedonis yang gila akan barang-barang semata, tanpa mau belajar bagaimana cara barang itu diciptakan dengan kualitas baik. Dari kenyataan ini, membuktikan bahwa dunia pendidikan kita tidak dirancang dan diintegrasikan dengan dunia industri yang mengusung teknologi canggih, sebagai jalan menuju suksesnya kemandirian suatu bangsa, hingga masyarakatnya menjadi bodoh, karena tidak bisa berpikir dengan jernih mana yang baik dan mana yang kurang baik dalam memandang global information yang setiap detik hadir dan menyebarkan virusnya di tengah-tengah masyarakat kita. Lihatlah realitas kehidupan telah dipenuhi oleh sosok penyebar kebudayaan barat dengan posisi mendominasi dari budaya kelokalannya di tengah masyarakat. Tengok saja sekumpulan eksekutif muda dengan keharuman parfum wangi bunga sedap malam telah berdiskusi dalam suasana alunan musik klasik hasil gesekan biola Mozart di salah satu sudut ruangan “Americano Cafe” yang bergaya Amerika itu. Segerombolan anak muda berambut Punk, suatu gaya rambut model kulit duren dengan segudang atribut pernik-pernik dari metal itu, telah nongkrong dan bernyanyi ria di bawah jembatan layang jalan wakidun. Para remaja putri dengan pakaian seronok, bercelana ketat serta mengumbar pusernya terlihat jelas di pelataran Soeparno Plaza. Para pasangan ABG dengan model rambut ke coklat-coklatan mirip buah jagung yang membesar dari tangkainya itu, telah bermesraan dan berangkulan seenaknya sendiri di tempat umum, tanpa ada rasa malu di dalam dirinya. Banyaknya para ABG berperilaku liar duduk mojok ditempat sepi sambil tangnanya cowal-cawil kesana kemari ya . Begitu banyak fenomena-fenomena kehidupan yang terjadi di masyarakat baik remaja, eksekutif muda maupun orang tua dengan mentalitas paradok dari kehidupan seharusnya sebagai warga negara yang menjunjung budaya Indonesia sendiri dimana sopan santun dalam berperilaku diperlakukan di masyarakat.